Minggu, 21 Oktober 2018

Keluh kesah wirausahawan muda UIN Walisongo



SEMARANG – Para mahasiswa KPI D 2018 UIN Walisongo menyambut positif kesepakatan yang dicapai dosen pengampu mata kuliah Kewirausahaan pak Widodo, atas pemberian tugas yang berupa membuka wirausaha dan menghasilkan minimal 20 juta dalam satu bulan, Jumat (28/9).
                Salah satu mahasiswa KPI D UIN Walisongo kemarin langsung menyatakan bahwasanya tugas yang diembani oleh dosen pengampu cukup berat mengingat para mahasiswa baru khususnya masih sulit untuk mencari waktu yang pas, dikarenakan kuliah dengan tugas yang menumpuk serta adanya kegiatan organisasi mahasiswa yang cukup padat.
                Disisi lain, mahasiswa UIN Walisongo Dani Majid mengutarakan bahwasanya para mahasiswa KPI D 2018 cukup antusias dalam menerima tugas kewirausahaan ini.
                “Karna mahasiswa membutuhkan biaya yang lebih, khususnya yang tinggal di kost dan yang mempunyai keluarga yang sangat berkecukupan”, katanya.
                Dia pun menegaskan bahwasanya tidak ada kata berhenti dalam berwirausaha, Dani menyatakan, “ Tidak ada kata berhenti dalam hidup saya, saya akan berusaha lagi karena semua usaha yang kita jalani itu pasti ada naik turunnya dan intinya jangan pernah berhenti”.
                “Beban saya adalah ketika saya gagal dalam menjalankan usaha”. Ujarnya.
                Mahasiswa lain pun ikut angkat bicara mengenai tugas ini. Farhan Hafidz mahasiswa KPI D yang menjalankan usaha Tiens itu, mengungkapkan bahwasanya tugas ini adalah salah satu syarat UTS (Ujian Tengah Semester) yang diberikan oleh dosen pengampu.
                “Iya, itu adalah syarat untuk mengikuti UTS, setiap mahasiswa harus membuka usaha, usaha apapun itu”, terangnya.
                “Masalah ada yang mendukung tidaknya dalam menjakankan usaha ini sih pasti ada yang tidak mendukung, karena tugas berwirausaha ini bersifat tiap hari, sedangkan setiap hari kita yang mahasiswa ada jam mata kuliah. Tapi, nyatanya tidak mengganggu”, ujar Farhan ketika ditanya mengenai dukungannya dari keluarga.
                Mengenai proses pun ia sempat angkat bicara, “Alhamdulillah, di dalam usaha pasti ada proses, di proses usaha yang saya jalani ini, alhamdulillah bisa saya lewati”, ungkapnya ketika di wawancarai oleh tim LPM MISSI.
                Fahira Widda selaku ketua kelompok 4 di dalam tugas berwirausaha pun mengharapkan untuk seluruh individu di dalam kelompok (tidak hanya di kelompoknnya saja) untuk menjalankan usaha ini dengan baik dan rapi, walaupun masih pada pemula dan dalam proses yang lebih baik.
                “Kita ajak lagi dia untuk berwirausaha dan aktif didalamnya, kalo belum punya inisiatif untuk membuka usaha, bisa ikut dengan teman yang lain, yang mana sudah mempunyai usaha”, ungkapnya ketika menjelaskan apabila salah satu individu tersebut tidak aktif dalam berwirausaha.
                Sebelumnya, Fahira pun mempunyai kesan tersendiri mengenai tugas berwirausaha berkelompok ini, “Pastinya, nambah pengalaman dan yang tidak kalah penting adalah kita dapat merasakan payahnya dalam berwirausaha”.
               
Komting mata kuliah Kewirausahaan KPI D 2018 Masna Khasbiyah beranggapan bahwa tujuan dari dosen pengampu adalah baik, karena melatih kita agar bisa berwirausaha walaupun target yang di tentukan cukup besar dan mepet, namun ia percaya bahwa hal itu agar kita lebih bersemangat untuk menjalani wirausaha.
                “Targetnya 20 juta dan waktunya 1 bulan, namun saya yakin target 20 juta itu hanya untuk menyemangatikita agar bersemangat menjalani wirausaha ini”, terangnya.
                “Dosen pengampu mendengarkan keluhan kami, bahkan dosen pun selalu memberi semangat ketika kami mengeluarkan keluh kesah kita”, ujarnya
                Kemarin, Masna mengemukakan bahwa ia mempunyai motivasi yang membuatnya teguh dalam berwirausaha, “Motivasi saya dalam berwirausaha itu jangan mengharapkan banyak laba, namun dalam berwirausaha jadikanlah banyak pengalaman agar kita bisa terus memperbaiki kekurangan kita”, terangnya
                Antara kuliah dan usaha, mayoritas mahasiswa memilih keduanya dikarenakan, para mahasiswa pun membutuhkan biaya tambahan dan terus bisa memperoleh ilmu dari kuliahnya.
                Rencananya, nantinya sebelum UTS dimulai uang-uang hasil dari usaha para mahasiswa akan dikumpulkan kepada dosen pengampu dan memberikan laporan-laporan mengenai hasil usaha yang telah mereka lakukan.
               


               

               



Tidak ada komentar:

Posting Komentar