![]() |
| ilustrasi mafia bola oleh liputan6.com |
Sepakbola adalah sebuah
permainan dalam mengolah si kulit bundar di dalam lapangan, yang dilakukan oleh
dua tim yang mana setiap dua tim tersebut terdiri dari 11 pemain. Peran ini pun tak hanya pemain saja yang dapat
menikmatinya tetapi masyarakat yang menonton pun ikut terhibur dalam suatu
pertandingan sepakbola. Tak heran dengan seiring berkembangnya zaman semakin
bertambahnya para penikmat sepakbola, tak hanya yang berperan langsung di dalam
lapangan melainkan penonton yang sangat antusias dan sering disebut suporter.
Namun, dengan semaraknya sepakbola di Indonesia ini yang semakin banyaknya
peminat ada suatu hal yang sedikit merusak citra dalam persepakbolaan
Indonesia, yaitu Mafia.
Mafia bukanlah hal yang
baru dalam dunia persepakbolaan, jauh dari masa sekarang sepakbola sudah
mengenal yang Namanya match fixing atau pengaturan skor. Dalam
perkembangannya, sepakbola tak hanya menjadi sebuah pertandingan olahraga,
melainkan menjadi ladang lumbung uang bagi para mafia. Dengan adanya mafia bola
di setiap federasi persepakbolaan di dunia ini, maka tak heran jika sesuatu
yang mustahil akan menjadi kenyataan, dan yang mungkin di angan-angankan dapat
tercapai dengan adanya pengaturan skor dalam setiap pertandingan.
Pada tahun 1915, di Inggris yang pada
saat itu mengelar pertandingan Football League First Division atau yang
sekarang berganti nama menjadi Premiere League mempertemukan antara
Manchester United dengan Liverpool. Pada tanggal 2 April tepatnya, para
pengamat sepakbola banyak yang meyakini bahwa duel tersebut akan berlansung
ketat, apalagi sang tuan rumah yang kala itu tengah berjuang habis-habisan
untuk bisa keluar dari zona degradasi. Sementara tamunya yang pada saat itu
menempati papan tengah klasmen juga tengah memperbaiki posisi mereka. Namun
apadaya, pertandingan berjalan antiklimaks. Seperti yang telah diprediksi oleh
para pengamat, Manchester United berhasil menaklukan lawannya dengan skor 2-0.
Tapi dalam pertandingan tersebut menemui titik kejangalan, yang mana pemain
Liverpool yang bermain 2x45 menit itu bermain dengan loyo dan seperti
ogah-ogahan dalam bermain. Puncaknya adalah pada saat pemain Liverpool, Fred
Pagnam yang kala itu hamper mencetak gol setelah tendangannya membentur mistar
gawang, rekannya yang lain bukannya mempuji percobaan tendangan tersebut malah
memprotes Fred yang dianggap ingin mencetak gol. Dari situ terlihat, bahwasanya
rekan-rekan yang memprotes Fred Pagnam tersebut tidak ingin tim mereka menang
dalam pertandingan tersebut. Pasca pertandingan tersebut, muncul selebaran yang
menyatakan jika pertandingan itu di telah diatur olehsebuah perusahaan judi.
Setelah Federasi Sepakbola Inggris melakukan penyelidikan maka di tetapkanlah 7
orang pemain dari kedua kesebelasan yang telah berkerjasama dengan perusahaan
judi tersebut. 7 orang itu antara lain, Sandy Turnbull, Arthur Whalley, dan
Enoch West dari United. Sedangkan, dari kubu Liverpool antara lain, Jackie
Sheldon, Tom Miller, Bob Pursell, dan Thomas Fairfoul. Mereka akhirnya dikenakan
sanksi dan larangan bermain sepakbola seumur hidup.
Persepakbolaan
Indonesia pernah tercoreng oleh tindakan pengaturan skor yang terjadi pada
persepakbolaan negeri ini, dari kasus sepakbola gajah antara PSIS Semarang
menghadapi PSS Sleman hingga kasus Bhayangkara FC menjadi juara Liga 1
Indonesia melalui poin dewa. Insiden sepakbola gajah terjadi pada saat PSIS
bertemu dengan PSS Sleman dalam laga babak delapan besar Divisi Utama di Sasana
Krida Akademi Angkatan Udara (AAU) pada Minggu, 26 Oktober 2014. Pada laga
tersebut, PSS menang atas PSIS dengan skor 3-2, lima gol yang tercipta
merupakan hasil gol bunuh diri. Peristiwa sepakbola gajah tersebut terjadi
karena muncul instruksi agar menghindar dari tim Borneo FC pada babak
berikutnya. Sedangkan BFC (Bhayangkara FC) dengan dramatis menjadi juara Liga 1
Indonesia setelah mendapat poin WO atas MK (Mitra Kukar), padahal pada sehari
sebelumnya tim Mitra Kukar mendapatkan NLB (Nota Larangan Bermain) yang
berisikan satu nama, yaitu Herwin Tri Saputra. Sedangkan, dari tim BFC
melayangkan protes terhadap komisi disiplin PSSI tetrhadap MK dikarenakan
memainkan pemain yang terkena akumulasi pertandingan, yaitu Mohammed Sissoko.
Pihak Naga Mekes pun tak terima terhadap sikap Komdis PSSI yang menerima dan
menyetujui aksi protes dari pihak BFC tersebut yang mana pada akhirnya tim
Mitra Kukar kalah WO dari Bhayangkara FC, dan BFC mendapatkan poin secara
Cuma-cuma dari PSSI pada penghujung Liga 1 Indonesia, dan membuat Bali United
menunda gelar juara tahun 2017. Padahal saat itu Bali United bermain dengan
penuh kerja keras untuk mendapatkan poin penuh dan memastikan menjadi juara,
namun usaha itu sia-sia disaat Bhayangkara FC menjadi juara Liga 1 Indonesia
2017, usai diumumkannya penambahan poin untuk Bhayangkara FC yang menang WO
atas Mitra Kukar.
Dalam lansiran CNN
Indonesia setelah mewawancarai BBC pada tahun 2010 lalu, Sportdar menuturkan
bahwa setiap akhir pekan mereka akan mengamati sekitar 800 laga yang
berlangsung di Eropa. Tim-tim yang bertanding akan dalam laga yang diindikasi
telah diatur, akan memiliki peluang menang (odds) yang aneh. Darren Small
berasumsi bahwa kesebelasan yang bertanding di kendang lawan akan memiliki
peluang menang 30 persen, namun ada beberapa pertandingan yang peluangnya
melonjak menjadi 95 persen. Small sendiri telah mengamati pertandingan di Eropa
Timur di mana tim tamu memiliki peluang besar untuk memenangkan pertandingan.
Akan tetapi, ketika tuan rumah sudah unngul terlebih dahulu, tak ada perubahan
berarti dalam odds tim tamu menang. Hal ini menjadi indikasi para petaruh akan
berbalik mendukung tim tuan rumah.
Menurut Bambang Suryo
seperti yang dilansir oleh Merdeka.com, bahwa factor penyebab maraknya praktek
pengaturan skor di Indonesia tak lepas dari factor keuangan klub yang tidak stabil.
Contohnya klub-klub Divisi Utama, sebuah klub hanya diberi modal 100 juta.
Namun pengeluaran mereka jauh lebih besar dari pada itu.
Pemberantasan
pengaturan skor di Indonesia ini sangat perlu dan harus dilakukan. Mengingat
para masyarakat menginginkan sesuatu yang real atau nyata dalam sebuah
perhelatan sepakbola di Indonesia. Memperbaiki tata kelola seluruh klub-klub di
Indonesia ini harus upayanya segera di perbaiki. Tidak ada salahnya terlambat
untuk menjadi lebih baik daripada tidak sama sekali. Selain tata kelola yang
diperbaiki, maka kiranya federasi sepakbola harus lebih paham mengenai suatu
masalah persepakbolaan negeri ini. Masih banyak antek-antek yang berkuasa dalam
pengaturan skor di bumi Nusantara dan bebas nya mereka dalam memberikan asupan
terhadap orang dalam federasi sepakbola dan membuat mereka merasa nyaman dalam
melakukan transaksi tersebut. Apakah pengaturan skor dan siapa dalang dibalik
mafia bola akan terungkap?.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar