Kamis, 25 Oktober 2018

MAFIA SANG PENGUASA SEPAKBOLA INDONESIA



ilustrasi mafia bola oleh liputan6.com
                Sepakbola adalah sebuah permainan dalam mengolah si kulit bundar di dalam lapangan, yang dilakukan oleh dua tim yang mana setiap dua tim tersebut terdiri dari 11 pemain. Peran  ini pun tak hanya pemain saja yang dapat menikmatinya tetapi masyarakat yang menonton pun ikut terhibur dalam suatu pertandingan sepakbola. Tak heran dengan seiring berkembangnya zaman semakin bertambahnya para penikmat sepakbola, tak hanya yang berperan langsung di dalam lapangan melainkan penonton yang sangat antusias dan sering disebut suporter. Namun, dengan semaraknya sepakbola di Indonesia ini yang semakin banyaknya peminat ada suatu hal yang sedikit merusak citra dalam persepakbolaan Indonesia, yaitu Mafia.
            Mafia bukanlah hal yang baru dalam dunia persepakbolaan, jauh dari masa sekarang sepakbola sudah mengenal yang Namanya match fixing atau pengaturan skor. Dalam perkembangannya, sepakbola tak hanya menjadi sebuah pertandingan olahraga, melainkan menjadi ladang lumbung uang bagi para mafia. Dengan adanya mafia bola di setiap federasi persepakbolaan di dunia ini, maka tak heran jika sesuatu yang mustahil akan menjadi kenyataan, dan yang mungkin di angan-angankan dapat tercapai dengan adanya pengaturan skor dalam setiap pertandingan.
Pada tahun 1915, di Inggris yang pada saat itu mengelar pertandingan Football League First Division atau yang sekarang berganti nama menjadi Premiere League mempertemukan antara Manchester United dengan Liverpool. Pada tanggal 2 April tepatnya, para pengamat sepakbola banyak yang meyakini bahwa duel tersebut akan berlansung ketat, apalagi sang tuan rumah yang kala itu tengah berjuang habis-habisan untuk bisa keluar dari zona degradasi. Sementara tamunya yang pada saat itu menempati papan tengah klasmen juga tengah memperbaiki posisi mereka. Namun apadaya, pertandingan berjalan antiklimaks. Seperti yang telah diprediksi oleh para pengamat, Manchester United berhasil menaklukan lawannya dengan skor 2-0. Tapi dalam pertandingan tersebut menemui titik kejangalan, yang mana pemain Liverpool yang bermain 2x45 menit itu bermain dengan loyo dan seperti ogah-ogahan dalam bermain. Puncaknya adalah pada saat pemain Liverpool, Fred Pagnam yang kala itu hamper mencetak gol setelah tendangannya membentur mistar gawang, rekannya yang lain bukannya mempuji percobaan tendangan tersebut malah memprotes Fred yang dianggap ingin mencetak gol. Dari situ terlihat, bahwasanya rekan-rekan yang memprotes Fred Pagnam tersebut tidak ingin tim mereka menang dalam pertandingan tersebut. Pasca pertandingan tersebut, muncul selebaran yang menyatakan jika pertandingan itu di telah diatur olehsebuah perusahaan judi. Setelah Federasi Sepakbola Inggris melakukan penyelidikan maka di tetapkanlah 7 orang pemain dari kedua kesebelasan yang telah berkerjasama dengan perusahaan judi tersebut. 7 orang itu antara lain, Sandy Turnbull, Arthur Whalley, dan Enoch West dari United. Sedangkan, dari kubu Liverpool antara lain, Jackie Sheldon, Tom Miller, Bob Pursell, dan Thomas Fairfoul. Mereka akhirnya dikenakan sanksi dan larangan bermain sepakbola seumur hidup.
            Persepakbolaan Indonesia pernah tercoreng oleh tindakan pengaturan skor yang terjadi pada persepakbolaan negeri ini, dari kasus sepakbola gajah antara PSIS Semarang menghadapi PSS Sleman hingga kasus Bhayangkara FC menjadi juara Liga 1 Indonesia melalui poin dewa. Insiden sepakbola gajah terjadi pada saat PSIS bertemu dengan PSS Sleman dalam laga babak delapan besar Divisi Utama di Sasana Krida Akademi Angkatan Udara (AAU) pada Minggu, 26 Oktober 2014. Pada laga tersebut, PSS menang atas PSIS dengan skor 3-2, lima gol yang tercipta merupakan hasil gol bunuh diri. Peristiwa sepakbola gajah tersebut terjadi karena muncul instruksi agar menghindar dari tim Borneo FC pada babak berikutnya. Sedangkan BFC (Bhayangkara FC) dengan dramatis menjadi juara Liga 1 Indonesia setelah mendapat poin WO atas MK (Mitra Kukar), padahal pada sehari sebelumnya tim Mitra Kukar mendapatkan NLB (Nota Larangan Bermain) yang berisikan satu nama, yaitu Herwin Tri Saputra. Sedangkan, dari tim BFC melayangkan protes terhadap komisi disiplin PSSI tetrhadap MK dikarenakan memainkan pemain yang terkena akumulasi pertandingan, yaitu Mohammed Sissoko. Pihak Naga Mekes pun tak terima terhadap sikap Komdis PSSI yang menerima dan menyetujui aksi protes dari pihak BFC tersebut yang mana pada akhirnya tim Mitra Kukar kalah WO dari Bhayangkara FC, dan BFC mendapatkan poin secara Cuma-cuma dari PSSI pada penghujung Liga 1 Indonesia, dan membuat Bali United menunda gelar juara tahun 2017. Padahal saat itu Bali United bermain dengan penuh kerja keras untuk mendapatkan poin penuh dan memastikan menjadi juara, namun usaha itu sia-sia disaat Bhayangkara FC menjadi juara Liga 1 Indonesia 2017, usai diumumkannya penambahan poin untuk Bhayangkara FC yang menang WO atas Mitra Kukar.
            Dalam lansiran CNN Indonesia setelah mewawancarai BBC pada tahun 2010 lalu, Sportdar menuturkan bahwa setiap akhir pekan mereka akan mengamati sekitar 800 laga yang berlangsung di Eropa. Tim-tim yang bertanding akan dalam laga yang diindikasi telah diatur, akan memiliki peluang menang (odds) yang aneh. Darren Small berasumsi bahwa kesebelasan yang bertanding di kendang lawan akan memiliki peluang menang 30 persen, namun ada beberapa pertandingan yang peluangnya melonjak menjadi 95 persen. Small sendiri telah mengamati pertandingan di Eropa Timur di mana tim tamu memiliki peluang besar untuk memenangkan pertandingan. Akan tetapi, ketika tuan rumah sudah unngul terlebih dahulu, tak ada perubahan berarti dalam odds tim tamu menang. Hal ini menjadi indikasi para petaruh akan berbalik mendukung tim tuan rumah.
            Menurut Bambang Suryo seperti yang dilansir oleh Merdeka.com, bahwa factor penyebab maraknya praktek pengaturan skor di Indonesia tak lepas dari factor keuangan klub yang tidak stabil. Contohnya klub-klub Divisi Utama, sebuah klub hanya diberi modal 100 juta. Namun pengeluaran mereka jauh lebih besar dari pada itu.
            Pemberantasan pengaturan skor di Indonesia ini sangat perlu dan harus dilakukan. Mengingat para masyarakat menginginkan sesuatu yang real atau nyata dalam sebuah perhelatan sepakbola di Indonesia. Memperbaiki tata kelola seluruh klub-klub di Indonesia ini harus upayanya segera di perbaiki. Tidak ada salahnya terlambat untuk menjadi lebih baik daripada tidak sama sekali. Selain tata kelola yang diperbaiki, maka kiranya federasi sepakbola harus lebih paham mengenai suatu masalah persepakbolaan negeri ini. Masih banyak antek-antek yang berkuasa dalam pengaturan skor di bumi Nusantara dan bebas nya mereka dalam memberikan asupan terhadap orang dalam federasi sepakbola dan membuat mereka merasa nyaman dalam melakukan transaksi tersebut. Apakah pengaturan skor dan siapa dalang dibalik mafia bola akan terungkap?.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar